top of page

_2025: Belajar Memaafkan Diri Sendiri



Bagi sebagian dari kita mengucapkan kata "maaf" kepada orang lain adalah hal yang mudah tapi eits, tunggu dulu, mengucapkan kata "maaf" kepada diri sendiri mungkin adalah hal tersulit yang pernah dilakukan sepanjang hidup kita. Apakah benar demikian?


Kesalahan adalah bagian dari hidup itu sendiri, begitu pun dengan kegagalan

Saya dibesarkan di sebuah kondisi saat melakukan kesalahan kecil sama seperti melakukan dosa besar. Terlihat salah membuat saya menjadi gagal menjadi seorang manusia, yang mana alih-alih belajar mengakui bahwa kesalahan tersebut adalah sebuah cara untuk menjadi manusia yang lebih baik, saya justru sebaliknya. Saya berusaha sedemikian rupa untuk tidak boleh melakukan kesalahan, dan sialnya lagi, cara pandang tersebut saya bawa ketika mengalami sebuah kegagalan. Pokoknya, saya tidak boleh terlihat salah dan gagal. Bersikap terbuka dan vulnerable tidak akan pernah menjadi kamus saya ketika bekerja ataupun berinteraksi dengan orang lain.


Saya menjadi pribadi yang terlalu keras kepada diri saya sendiri dan lebih gilanya lagi, pemahaman tersebut saya bawa ketika bekerja, bahwa melakukan kesalahan itu sama dengan tidak profesional dan tidak kompeten. Saya memandang remeh dan rendah orang-orang yang melakukan kesalahan, dan menganggap mereka tidak kompeten atau bahkan ... bodoh.

Padahal, melakukan kesalahan atau menderita kegagalan adalah hal yang lumrah dan normal dalam jalan hidup manusia.


Belajar meresapi emosi dan berempati dengan diri sendiri

Sabbatical tahun lalu dengan masuk ke sebuah recovery center salam hampir 2.5 bulan dan menghilang dari dunia membuat saya belajar untuk melakukan rekonstruksi ulang tentang bagaimana saya memandang kesalahan yang saya pernah lakukan di dalam hidup saya, termasuk semua tindakan-tindakan bodoh dan tidak terpuji yang saya lakukan, adalah sesuatu yang harus saya akui dan maafkan. Saya memfokuskan pada sisi positif dan alasan mengapa saya melakukan bisa jatuh terjerembab atau melakukan kesalahan yang saya lakukan, ketimbang menyalahkan diri sendiri atau bersikap kasar terhadap emosi yang saya rasakan.

"Oh, saya melakukan kesalahan ini, karena saya merasa kesepian," atau "Ternyata, saya belajar untuk tidak gampang percaya dengan orang lain." Saya belajar untuk merasakan dibandingkan memikirkan, apalagi saat kenangan akan melakukan kesalahan itu muncul tiba-tiba, saya berusaha untuk mengidentifikasi perasaan yang saya rasakan. Belajar untuk merasakan terlebih dahulu, baru kemudian bisa memaafkan.


Saya pada akhirnya memahami bahwa yang namanya memaafkan itu tidak dimulai dengan pikiran tetapi perasaan. Dengan belajar merasakan, maka kemudian saya bisa memahami diri sendiri dan lebih compassionate dengan diri sendiri, "You will be okay, Aga."


Jadi, marilah kita belajar untuk memaafkan diri sendiri dan compassionate dengan diri sendiri.


Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin! legabas

bottom of page