
Saat saya memutuskan untuk tahu-tahu resign dari kantor kedua di sepanjang karir saya sebagai konsultan hukum alias pengacara, banyak orang yang shock. Saya juga kaget kenapa saya melakukannya. WADUH, RESIGN NIH. Namun, kalau kata salah satu "mentor" saya, Ibu Lieta (mungkin beliau sedang tertawa membaca hal ini), "Kamu itu Ga, kok kayaknya hidup tanpa beban, lepas aja gitu." Sikap "terlalu lepas" atau justru "kelepasan" itu yang membuat saya kemudian berpikir, "I just want to resign and do other things in life."
Kalau kata Mas Iwa K, "Bebas, lepas 'ku tinggalkan semua yang ada, melayang 'ku melayang, jauh."
Naked Resignation
Tidak banyak orang yang memiliki privilege mengajukan surat pengunduran diri atau surat resign tanpa mengunci pekerjaan di kantor setelahnya, istilah kerennya naked resignation. Sebenarnya naked resign ini adalah tindakan yang bukan tanpa alasan karena sebuah pertanyaan refleksi, "life is more than just lawyering." Ada aspek lain di dalam hidup saya yang membutuhkan perhatian atau bahkan aktivasi kemampuan lebih, dan keputusan ini setelah saya merenungkan artikel di Harvard Business Review mengenai pentingnya membangun portfolio karir ketimbang jenjang karir atau career path.
Karir sepanjang hidup ini jauh dari sekadar pekerjaan yang kita geluti sekarang ini.
Ya, memang ada benarnya juga sih. Bahwa seorang manusia memiliki talenta, skill atau apapun sebutannya yang patut untuk diaktivasi di dalam berbagai macam aspek hidupnya. Misalnya? Menulis, bermain teater, menggambar, mengajar, dan skill lain yang mungkin tidak dapat dipertajam di pekerjaan yang sekarang ini. Coba dibaca deh artikel Harvard Business Review di atas, mungkin bisa menjadi pemantik ide tentang apa yang ingin dikerjakan di tahun 2025.
Namun lagi-lagi, dengan catatan, tidak semua orang punya kesempatan untuk take a break (karena tidak semua orang suka makan KitKat) dan kemudian tahu-tahu, ikutan les balet atau genjrang-genjreng latihan gitar tanpa berpikir, besok makan pakai apa ya?
Sabbatical Leave
Istilah "sabbatical leave" ini mungkin tidak banyak orang yang tahu, sebuah istilah asing. Kata "sabat" ini berasal dari kata Yahudi yang berarti, "berhenti bekerja". Berhenti bekerja ini secara konservatif atau bahkan ultrakonservatif di dalam agama Yahudi dimaknai secara total, tidak boleh melakukan apa-apa. Tentu saja, saya hanya mengambil istilahnya saja karena saya tetap melakukan apa-apa di periode "tidak bekerja secara formal" ini.
Mungkin kita lebih familiar dengan istilah "gap year" atau periode yang digunakan oleh anak yang baru lulus kuliah sebelum masuk kerja kemudian melakukan hal yang lain terlebih dahulu sebelum terjebak rutinitas 9-5 dan secangkir es kopi gula aren atau americano. Bagi saya, dua istilah ini dimaknai dengan tujuan yang sama yaitu melakukan hal lain yang sebelumnya tidak menjadi prioritas ketika full bekerja kantoran.
Lalu, lantas, mengerjakan apa?
Sebuah pertanyaan menarik. Saya pada akhirnya memutuskan untuk mengambil beberapa "kerjaan", "proyek" atau "peluang" yang lucunya, tidak ada hubungannya dengan latar belakang saya sebagai lawyer. Salah satunya adalah berperan sebagai project officer penampilan kelas tari Dayak saya, MINU di pergelaran Gugur Gunung pada tanggal 8 Desember 2024.
Setelah sekian purnama saya terlibat di dalam sebuah pergelaran, mungkin terakhir kali ketika kuliah atau SMA, saya pada akhirnya punya kesempatan untuk mengaktivasi kemampuan performing arts yang saya miliki. Tidak hanya menjadi penari, namun juga membuat kelas tari Dayak yang isinya adalah para penari non-profesional yang gemar berkesenian menjadi lebih serius. Sebuah pertanyaan juga tentang bagaimana sustainability funding di dalam berkesenian dan betapa mahalnya untuk membuat suatu pergelaran kesenian tradisional atau budaya Indonesia yang tidak diiringi dengan apresiasi.
Saat mengerjakan proyek ini, saya seolah kembali menjadi diri saya sendiri. Tidak banyak yang tahu mengenai sisi saya yang sebelah sini, karena mungkin ketika kuliah sampai dunia kerja, ada persona yang berbeda yang saya tonjolkan karena lagi-lagi: ya gak mungkin sebelum conference call dan negotiation meeting, dimulai dengan tarian.
Sesungguhnya, saya membutuhkan bantuan, ide atau bahkan pikiran untuk membuat bagaimana kami bisa tampil dengan elok di bulan Desember nanti. Tertarik untuk membantu?